Sabtu , Juni 22 2024

Mengenal HIV/AIDS Mulai Dari Gejala Hingga Pengobatannya

(Ditulis oleh Evi Apriyani, mahasiswi Prodi Kebidanan Program Sarjana Terapan Universitas Indonesia Maju)

Semua orang tahu jika penyakit HIV dan AIDS dapat menyebabkan gangguan yang berbahaya jika tidak segera mendapatkan penanganan. Namun, hal yang perlu kamu ketahui bahwa HIV dan AIDS adalah dua gangguan yang berbeda.

Perbedaan Antara HIV dan AIDS?

Banyak orang yang menganggap jika HIV dan AIDS adalah jenis penyakit yang sama. Faktanya, diagnosis dari kedua penyakit ini berbeda, tetapi dapat berjalan seiringan. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS adalah kondisi akibat serangan virus HIV. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

HIV adalah Virusnya

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah salah satu jenis virus yang dapat menyebabkan penyakit serius bagi penderitanya. Lantaran, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Lebih tepatnya, HIV ini menyerang salah satu sel di dalam sel darah putih, yaitu sel T atau CD4. Di mana, sel tersebut memiliki peran penting untuk menjaga imun tubuh dan memerangi infeksi yang masuk ke dalam tubuh. Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit. Apabila tidak ditangani sesegera mungkin, infeksi HIV ini dapat berkembang hingga mencapai stadium akhir. Stadium akhir dari HIV adalah AIDS.

AIDS adalah Kondisi yang Disebabkan oleh HIV

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) disebut sebagai “HIV tahap akhir” atau “penyakit HIV lanjut” adalah istilah umum untuk penyakit yang terjadi karena infeksi HIV yang tidak diobati selama beberapa tahun. Kondisi ini telah menyebabkan sistem imun tubuh mengalami kerusakan parah dan tidak bisa lagi melawan infeksi yang menyerang tubuh. Penyakit dan gejala akan bervariasi untuk setiap orang yang mengidap AIDS, tetapi sangat mungkin mereka mengalami infeksi dan kanker yang bisa mengancam jiwa.

Perlu diketahui bahwa setiap orang yang mengidap AIDS pasti mengidap HIV, tetapi tidak setiap orang yang mengidap HIV akan mengembangkan AIDS. Pasalnya, kini ada banyak pilihan pengobatan yang tersedia untuk orang yang hidup dengan HIV, sehingga kini jauh lebih sedikit orang yang mengembangkan AIDS. Seringkali, mereka yang mengembangkan AIDS adalah orang-orang yang belum pernah melakukan tes HIV dan tidak pernah menggunakan pengobatan. Begitu pengobatan HIV dimulai, kematian akibat AIDS bisa dicegah.

Faktor Risiko HIV/AIDS

Kelompok orang yang lebih berisiko terinfeksi HIV/AIDS diantaranya:

  • Berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa pengaman kondom
  • Menggunakan jarum suntik bersama-sama yang terkontaminasi HIV seperti alat suntk, alat tindik, alat tato
  • Penularan dari ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS. Penularan dapat terjadi selama kehamilan, saat melahirkan dan saat menyusui
  • Melakukan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan cairan tubuh manusia tanpa menggunakan alat pengaman diri yang cukup

Gejala HIV/AIDS

HIV juga tidak selalu menimbulkan gejala tertentu saat terjadi, sehingga sulit untuk mendiagnosisnya. Kebanyakan penderita mengalami flu ringan pada 2–6 minggu setelah terinfeksi HIV. Flu bisa disertai dengan gejala lain dan dapat bertahan selama 1–2 minggu. Setelah flu membaik, gejala lain mungkin tidak akan terlihat selama bertahun-tahun meski virus HIV terus merusak kekebalan tubuh penderitanya, sampai HIV berkembang ke stadium lanjut menjadi AIDS.

Pada kebanyakan kasus, seseorang baru mengetahui bahwa dirinya terserang HIV setelah memeriksakan diri ke dokter akibat terkena penyakit parah yang disebabkan oleh melemahnya daya tahan tubuh. Penyakit parah yang dimaksud antara lain seperti diare kronis, pneumonia, atau toksoplasmosis otak.

Cara Penularan HIV/AIDS

Penularan HIV/ AIDS terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta ASI. Perlu diketahui, HIV tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, atau sentuhan fisik.

Pencegahan HIV/AIDS

A: Abstinence – tidak melakukan hubungan seks berisiko

B: Be faithfull – bersikap saling setia pada pasangan

C: Use Condom – melakukan hubungan seks selalu pakai kondom secara benar dan konsisten

D: No drug – menghindari penggunaan jarum suntik tidak steril secara bergantian

E: Education – mencari informasi HIV/AIDS yang tepat dan benar, informasi dapat diperoleh di layanan Kesehatan terdekat

Pengobatan HIV/AIDS

Hingga saat ini obat yang telah ditemukan adalah antiretroviral (ARV) yaitu obat bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah HIV dalam tubuh agar dapat memperlambat perkembangan penyakit ini dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita. ARV dikonsumsi ODHA seumur hidup sehingga penting untuk menjaga kepatuhan minum obat. ARV yang diberikan harus diminum sesuai petunjuk dokter baik dosis maupun waktu minumnya. Saat ini ARV yang tersedia antara lain:

  • Kombinasi Dosis Tetap berisi Tenofovir, Lamifudin, dan Efavirens (TDF, 3TC, EFV) yang dikemas dalam 1 tablet, diminum 1 tablet 1 kali sehari pada waktu yang sama setiap harinya. Jadi tenggang waktu meminum ARV harus 24 jam, misal hari pertama minum ARV jam 08.00 pagi, maka hari- hari berikutnya juga diminum pada jam 08.00 pagi.
  • Obat lepasan sesuai petunjuk dokter.

About ProSciences

4 comments

  1. Sangat bagus isinya jadi tau apa dan gejala HIV

  2. Terimakasih infonya

  3. Ilmu yg betmanfaat,terimakasih

  4. Artikelnya sangat bermanfaat, JD tau cara penularan HIV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *